alexametrics
TOPIK TERPOPULER

Cegah Mudik Lokal, Pengamat Kebijakan Publik: Tak Mungkin Efektif

Fahmi Bahtiar
Cegah Mudik Lokal, Pengamat Kebijakan Publik: Tak Mungkin Efektif
Kemungkinan tradisi lama, seperti mudik lokal terjadi. Foto/Ilustrasi/SINDOnews

JAKARTA - Lebaran tinggal sehari lagi dan rasanya perayaan akan berbeda, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemungkinan tradisi lama, seperti mudik lokal untuk mengunjungi keluarga akan tetap terjadi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov) sebenarnya melarang masyarakat melakukan mudik lokal untuk mencegah penyebaran virus Sars Cov-II atau Corona (Covid-19). Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah mengatakan, perlarangan itu akan bermasalah pada penegakan aturan di lapangan. (Baca juga:Ucapkan Selamat Idul Fitri 1441 H, Wapres Imbau Rayakan dari Rumah Saja )

"Siapa yang mengawasi dan melakukan penegakan hukum? Efektivitasnya diragukan. Enggak mungkin efektif. Persoalannya, masyarakat mau silaturahmi, mudik itu tradisi," ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Sabtu (23/05/2020).



Dosen Universitas Trisakti itu menjelaskan, alasan mudik lokal akan sulit dibendung. Pertama, masyarakat sudah cukup lama dikekang untuk diam di rumah. Kedua, ada contoh pembukaan sebuah pusat perbelanjaan di Ciledug yang langsung diserbu pembeli.

"Bukan karena enggak takut Covid-19. Dia tahu dan mengerti Covid-19, tapi itu karena kebutuhan sehari-hari. Ini sama silaturahmi juga kebutuhan," ucapnya. (Baca juga: Menang Lelang Motor Jokowi, Warren Tanoesoedibjo: Saya Ingin Membantu Bangsa)

Dia memprediksi, akan ada peningkatan penumpang commuter line di Jabodetabek. Commuter line dan angkot-angkot sebagai sarana transportasi umum kemungkinan akan penuh. Di jalan raya, kendaraan roda dua akan mendominasi dan kemungkinan terjadi kemacetan.

Maka, perlu penambahan aparat keamanan, satuan polisi pamong praja, dan dinas perhubungan di sejumlah titik yang kemungkinan terjadi kerumunan. Keberadaan mereka untuk mengatur dan mengawasi masyarakat agar menjalankan protokol kesehatan. Selain itu, untuk mengantisipasi aksi kejahatan. (Baca juga: Bareng EP Jokowi, Sandi Bagikan Sembako ke Mahasiswa dan Buruh)

Dalam situasi seperti itu, penegakan aturan pelarangan bisa menjadi kontraproduktif dan memancing keributan. Trubus menyarankan, satu-satunya cara untuk meredam mudi lokal dengan mengedepankan peran serta masyarakat. Pemerintah menggandeng pengurus rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), dan tokoh agama.

"Ini perlu melakukan edukasi kepada masyarakat jadi mereka saling mengawasi. Kalau ada yang silturahmi, dipersilakan dan diingatkan kondisinya sedang pandemi harus mematuhi protokol kesehatan. Itu yang paling rendah risiko konfliknya," pungkasnya.



(don)

preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak